Penumpukan sampah di area penyimpanan sampah sebelum diangkut ke TPA, mengakibatkan warga menyampaikan keluhan, warga terdekat dari area penumpukan tidak mau membayar iuran sampah bulanan karena merasa terganggu dengan bau sampah. Mereka bilang akan bayar iuran sampah apabila bau sampah sudah tidak mengganggu mereka lagi.
Sementara warga yang tidak merasakan bau sampah, mereka merasa telah membayar iuran sampah maka kewajiban mereka telah tunai dilaksanakan. Mereka menuntut pengelola untuk mengatur semua, sementara mereka sendiri tidak bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.
Kejadian di atas terjadi di perumahan tempat tingga kami. Beberapa bulan ini saya mencari solusi, mulai dari diri sendiri. Saya membuat eco enzym untuk sampah yang masih segar, telah beberapa kali panen dalam sekala kecil, dalam botol air mineral satu liter, lanjut dengan tempat bekas es krim ukuran delapan liter,lalu lebih besar lagi ember dengan kapasitas delapan belas liter, dan akhirnya sekarang ember dengan kapasitas seratus liter. Saya mulai mengajak tetangga untuk menyetorkan sampah segar ke saya.
Saya memfasilitasi tetangga yang mau memilah sampah plastik, walau masih minim yang bersedia mengumpulkan hasil pilah sampah rumah tangga, dari sekitar dua ratus lima puluh warga, yang sudah bersedia menyetorkan sampah plastik masih hitungan jari. Saya tidak menyerah, perjalanan masih panjang.
Sekarang saya mencoba membuat kompos, metode yang saya coba adalah komposter dan pelita. Berharap bisa membuat kompos dengan cara yang mudah dan cepat.
Life Stage saya saat ini di mulai dari Passion for Service, melayani lingkungan sekitar, mencari solusi demi keberlangsungan alam. Dan Passion for Knowledge, karena saya harus mencari ilmu bagaimana caranya agar saya bisa menangani permasalahan yang ada di perumahan saya.
Life Stage berikutnya adalah Passion for People, perlahan-lahan mengedukasi tetangga tentang pentingnya menjaga lingkungan, mengasah kepedulian, menyadarkan bahwa sampah kita tanggung jawab kita.
Life Stage yang insyaAllah akan menjadi final dari perjalanan saya adalah Passion for Business, dimana saya bisa berbisnis dari sampah, mengais berkah dari sampah, kalau melihat dari banyak pengalaman orang lain, permasalahan sampah sangat potensial menjadi sumber kehidupan banyak orang.
Saya tergabung di Co Housing Gabungan 9, kami ada sebelas orang. Tujuh orang dari kami tergabung dalam Sustainable living, empat orang lainnya dari bisnis dan financial. Projek kami bernama Ecopreneur Hexa City, project jasa seperti menyelenggarakan workshop atau seminar dan konsultasi. Namun tidak menutup kemungkinan dapat menghasilkan produk berupa barang atau tutorial.
Alasan mengapa kami memilih dan membuat project ini adalah: Bahwa setiap pembangunan kota harus memperhatikan keberlangsungan dan selaras dengan alam. Usaha untuk menjaga alam juga dapat meningkatkan kesejahteraan dan menjadi peluang dalam menambah penghasilan.
#HexagonCity
#Hexagonia
#ProjectPassion
#KuliahBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar